Let’s Stroll For Awhile

Mobil sedan tua hijau milik P melaju pelan melewati kebungan udara malam yang dingin berembun, lampu depannya yang kecil dan sudah lama tidak diservis berpijar tidak pasti, menambah ke dalam daftar masalah-masalah yang ada di pikiran pemiliknya malam ini.

Tentu saja, P bisa mengetahui dengan pasti mana masalah yang paling urgent.

Akhirnya memutuskan untuk mengalihkan tatapannnya dari lampu depan yang jadi pelariannya sejak semenit yang lalu, P melirik kearah kursi penumpang.

Sudah 30 menit Q terduduk disana, sejak mereka meninggalkan bioskop dan memutuskan untuk menyudahi malam ini. Kalau selama ini P hanya mendengar kata-kata ‘semenit terasa seperti selamanya’, kali inilah dia benar-benar merasakan hal tersebut. Tak terhitung berapa kali P mengecek jam di dasbor mobilnya, setiap kali hanya menemukan bahwa waktu hanya maju 1 atau 2 menit.

P melirik ke arah jam lagi. Jam 10 lewat 8. 

Bioskop yang mereka datangi tadi memang letaknya cukup jauh dari rumah Q, tapi letaknya sangat dekat dari kosan P. Dan memang sudah menjadi langganan P dan teman-temannya. Dia dan belum pernah ke bioskop bersama, sehingga menurut P tempat itu cukup baik sebagai tempat “kencan” keenam mereka.

Ya, dia masih menghitung sudah berapa kali mereka keluar bersama. Dan ya, matanya masih melirik penasaran kearah Q selama beberapa detik yang cukup jauh diluar batas wajar. Kalau ini sebuah permainan sepak bola, si wasit sudah meniup peliut, tangan kanannya keluarkan kartu kuning.

Dari sudut mata kanannya, Q akhirnya menyadari lirikan P yang tertuju kepadanya, dan secara reflek dia membalas dengan lirikannya sendiri. Tapi P sudah siap siaga. Sebelum mata Q tertuju lurus kepadanya, P sudah menatap lurus ke jalan di depan kembali dan pura-pura tidak tahu. Tetap saja dia bisa merasakan jantungnya berdentum di dinding dadanya.

Keras. P harap Q tidak sampai mendengarnya.

Sekelebat cahaya melintas diatas sedan P, menembus kaca depan, dan menerangi dua kursi depan selama sepersekian detik.

Lampu jalan besar, batin P. Dia melebarkan pandangannya dalam upaya menyerap lingkungan sekitarnya.

Dan sedan P memang sudah memasuki jalan raya besar di bagian barat kota X, merayap pelan di jalur kiri jalan yang dibatasi oleh boulevard marmer putih di bagian tengahnya. Sebelah kanan dan kiri jalan dipenuhi oleh pusat perbelanjaan dan tempat makan yang masih berdesak penuh dengan orang-orang, dan suara percakapan mereka yang bertumpuk terdengar sayu-sayu menembus dinding sedan.

Kota X Barat selalu terlihat indah pada jam-jam ini, itu yang selalu P pikirkan, setelah perjalanannya yang berpuluh-puluh kali melewati jalanan dan daerah ini. Malam ini, gelapnya langit kota X yang diiringi oleh pantulan lampu—dari berbagai tempat makan di pinggir jalan, serta beberapa lampu jalanan yang warna-warni—di kaca sedan P membangkitkan suatu kesan di dalam diri P, suatu campuran dari rasa kagum, berani, dan cemas, dan tidak membiarkan jantung P beristirahat untuk sekejap pun. Mungkin ada hubungannya dengan 2 gelas kopi yang dia beli di bioskop tadi.

P memfokuskan dirinya kembali ke arah kemudi sesaat untuk menyelesaikan belokan cukup susah yang ada di depan mereka. Sedan sudah hampir selesai berbelok, ketika—

“Wah tempat itu, sudah lama banget aku pingin kesana P. Liat aja deh, dari luar udh keliatan unik gitu”,Q berujar, sambil menunjuk ke arah salah satu tempat nongkrong di sudut belokan yang kalau tidak salah baru buka 2 bulan yang lalu.

P yang tadinya masih fokus dalam upayanya membelokkan mobil cukup terkejut mendengar celetukan Q yang tiba-tiba itu. Memang seperti dia sih, batinnya. Jantungnya berdegup keras tadi, namun dia meyakinkan diri kalau itu hanya karena dia dikagetkan saat sedang serius.

Itu tidak benar. Sampai sekarang pun jantungnya menolak untuk memelankan dentumannya.

“Iya unik sih unik, cuma liat aja deh furnitur sama penataannya. Minimal 60 ribu, fix”, kata P dengan agak cuek. Lebih tepatnya berusaha kelihatan cuek.

Q melihat P dengan tatapan sedikit tidak percaya. “Ya kan gak setiap hari juga kesana, mas P, mas P”.

Secuil senyuman terekah di bibir Q setelah berkata begitu. R hanya membalas melihat Q dengan tatapan bercandanya, berusaha tersenyum senatural mungkin ditengah kegugupannya.

-To be continued..-

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s