Superfisial Hanya Superfisial

Tahun-tahun silam sudah

pada Dasawarsa Kesebelas

Sang Raja Bijak disinggahi seorang Dewi Bulan

Tertegun lihat kecantikan Dewi tersebut,

sebuah matahari hitam terbit di hati Sang Raja

 

Ia menceraikan Sang Ratu Bijak

sudah 20 tahun setia dampinginya

dan menjalin hubungan

dengan Putri Cantik dari kerajaan lain

 

Oh ya, Putri tersebut memang cantik

bahkan semburat matahari yang lewat pun

memilih diam, kagum akan keanggunannya

karena itulah Ia selalu tampak bersinar

 

Pada pesta pernikahan mereka

Ia bersabda, sambil selipkan

cincin di jari Sang Putri

“Mulai saat ini,”

“Hanya yang cantik dan rupawan,”

“Berhak tinggal di kerajaanku!”

hamba-hambanya pun menurut

karena Sang Raja Bijak selalu bijak

 

Mulai saat itu

kerajaan tersebut berubah

semua rakyatnya berlomba

berusaha kalahkan yang lain

tidak ada yang ingin dikeluarkan dari kerajaan

 

Satu cabang baru pun terbuka

dalam olimpiade semesta manusia

 

Buku-buku dibakar,

diganti katalog perhiasan dan alat rias

Taman baca dan observatorium diratakan

pusat kecantikan merambah bagai wabah

 

Para bunga mengecat mahkota mereka

berpikir hal itu akan membuatnya diinginkan

dan para lebah dengan ganas berebut mahkota terbesar

menduga bahwa hal itulah yang mereka inginkan

Para bunga lupa, tentang madu yang mereka kandung

dan para lebah,

mereka berpikir mahkota terbesarlah

yang mengandung madu terlezat

 

Oh, aku tidak bermaksud munafik!

aku jelas-jelas pengagum bunga normal

yang juga suka

lihat mahkota yang indah

 

Kadang saat aku termenung

aku bisa mendengar

isakan seorang Lelaki Tua diatas sana

 

jika tidak sedang mabuk bunga

kadang aku mengerti

sumber nestapaNya

 

Kalau memang Ia berniat

ciptakan makhluk paling indah di dunia

Ia akan ciptakan hanya patung hiasan

atau mungkin Dewa dan Dewi

statis sesuai idealisme keindahan

bukan manusia

dengan segala dimensi mereka

segala terang dan gelap mereka

 

Siang temaram itu,

pada Dasawarsa Kesebelas

seiring dengan jatuhnya air mata si Lelaki Tua

hujan deras turun dari langit

mungkin berusaha lunturkan

lapisan bedak yang membludak

dan telanjangkan wajah

agar sang cermin sesekali jujur

 

Aku terkekeh dalam lamunan

 

Bahkan langit kelabu pun tahu

Superfisial hanyalah superfisial

Dan manusia seharusnya

Jauh lebih dari itu

 

Advertisements

One thought on “Superfisial Hanya Superfisial

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s